Pages

Hutan Kunci Bagi Sasaran Pembangunan

Hutan dunia memainkan perang penting dalam peralihan ke ekonomi hijau, tapi pemerintah perlu berbuat lebih banyak guna menjamin hutan tersebut dikelola secara berkelanjutan

Pelet Kayu, Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi

Penggunaan wood pellet (pelet kayu) sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil untuk industri besar, kecil, dan rumah tangga menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan dengan minyak tanah dan gas.

COP19 Warsawa : Indonesia Paparkan Inisiatif Hijau Dalam Kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung

"Green Initiatives on Protected Forest, Production Forest and National Parks" COP-19/CMP-9 UNFCCC, Warsawa, Polandia (15/11/2013).

Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks

ITTO co-hosted a discussion forum on “Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks” at Forest Day 6, convened during UNFCCC COP18 in Doha, Qatar.

Monday, December 31, 2012

Laju Kerusakan Hutan Menurun Tajam


Wangiwangi, Sulawesi Tenggara (ANTARA News) - Kementerian Kehutanan mengklaim laju kerusakan kawasan hutan di Indonesia selama kurun waktu tiga terakhir menurun tajam, yakni dari 2,5 hektar pertahun menjadi kurang dari 500.000 hektar.

Hal itu diungkapkan Menteri Kehutanan, Zulkiflin Hasan, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Bupati Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Hugua, pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia, di Wakatobi, Senin.

"Ini berkat ketekunan dan dukungan seluruh anak bangsa dalam menyukseskan gerakan menanam 1 miliar pohon per tahun," kata Hasan, dalam sambutan tertulis tersebut.

Menurut Zulkifli secara tertulis, gerakan menanam 1 miliar pohon yang dicanangkan Presiden Susilo Yudhoyono telah mencapai hasil yang luar biasa. Tahun pertama pelaksanaan gerakan tersebut (2010), secara nasional berhasil menanam sebanyak 1,3 miliar pohon atau 130 persen dari target.

Pada 2011 ujarnya, pemerintah di seluruh Indonesia berhasil menanam 1,5 miliar pohon atau 150 persen dari target. Sedangkan pada 2012, jumlah pohon yang berhasil ditanam hanya sebanyak 732 juta pohon atau 70,32 persen dari target.

"Besaran capaian jumlah pohon yang ditanam dalam tiga tahun ini, berkat gubernur, bupati dan wali kota serta animo masyarakat yang cukup tinggi dalam menanam pohon," katanya.

(AO56)
Editor: Ade Marboen

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/350873/laju-kerusakan-hutan-menurun-tajam

Saturday, December 22, 2012

Menhut optimistis target tanam satu miliar pohon tercapai

Yogyakarta (ANTARA News) - Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan optimistis target penanaman pohon sebanyak satu miliar batang di seluruh wilayah Indonesia akan tercapai.

"Mudah-mudahan nanti pada akhir periode penanaman Januari 2013 akan mencapai target 1 miliar batang pohon," katanya yang ditemui saat meresmikan Hutan Pendidikan Konservasi Koesnadi Hardjasoemantri (HPKKH) di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta, Minggu.

Ia mencatat, pada 2010 sebanyak 1,3 miliar pohon telah ditanam dan pada 2011 sebanyak 1,5 miliar batang pohon.

Sementara untuk periode Januari - Oktober tahun ini realisasi penanaman sudah mencapai 750 juta batang pohon.

Menurut dia, kegiatan menanam satu miliar pohon mendapatkan respon luar biasa dari berbagai pihak mulai dari TNI, Polri, perguruan tinggi, pemangku kepentingan, pecinta alam, perusahaan swasta, dan masyarakat setempat.

"Tidak mungkin kami bisa memenuhi penanaman pohon di lahan yang begitu luas ini tanpa bantuan dari semua pihak," ujarnya.

Program penanaman satu miliar pohon merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 26 persen pada 2020.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/347711/menhut-optimistis-target-tanam-satu-miliar-pohon-tercapai

Monday, December 10, 2012

Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks

Panelists (L-R) Patrick Wylie, Yetti Rusli, Bianca Jagger and Juan Carlos Jintiach with moderator Jurgen Blaser. Photo: Hwan Ok Ma/ITTO
ITTO co-hosted a discussion forum on “Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks” at Forest Day 6, convened during UNFCCC COP18 in Doha, Qatar. Over 150 people participated in the discussion on the important role of forest landscape restoration in contributing to ecosystem health, sustainable development, poverty alleviation and human rights, as well as carbon sequestration.

Full Video : Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks



stronguardian's COP 18 UNFCCC Doha album on Photobucket

Source : http://www.itto.int/news_releases/id=3241
Download the Summary of the Discussion Forum here

Sunday, December 9, 2012

Indonesia's 15 years contribution to reduce emission from deforestation


Indonesia’s tropical forests are the third largest in the world, but face numerous threats and their deforestation has contributed significantly to global emissions.

Today, Indonesia’s Ministry of Forestry and National Council on Climate Change conducted a Side Event at UNFCCC COP 18 in Qatar National Convention Center, to landmark Indonesia’s 15 years of effort to reduce emissions through deforestation. Speaking at the event are Rachmat Witoelar, President's Special Envoy for Climate Change/Executive Chair of National Council on Climate Change; 
Sánz Sánchez, FAO; Yuyu Rahayu, Ministry of Forestry; Laksmi Banowati, UN-REDD Programme Indonesia and moderated by Yetti Rusli, Ministry of Forestry.

 Indonesia, as an archipelagic country, is vulnerable to the impacts of climate change and has already experienced a wide range of natural disasters. Therefore sustainable forest management is crucial to the national agenda, as part of the national efforts to reduce emissions and tackle climate change.

 Indonesia’s forest area is 136.2 million hectares, equal to almost 120 times of state of Qatar. These forests have functioned as the lungs of the world, providing oxygen for the globe for many millions of years. Indonesian forests house incredible biodiversity and give direct benefits to people who live in and depend on forests, as well as providing ecosystem services at a local, national and regional level that are crucial for life. They are shelters to 38,000 plant species, 12% of world mammals, 7,3% of world reptiles and 17% of worlds birds with 270 species of amphibians, and 2,827 species of invertebrate.
 
 As a developing country, Indonesia is striving for prosperity for its people, cutting forests and selling timber present an opportunity to achieve this. Since its reformation in 1998, Indonesia has been going towards democracy and economic growth. The country has faced economic crises, several natural disasters caused by climate change and domestic problems such as locally elected government officials who preferred deforestation. But now, forest is high in the administrative agenda of President Yudhoyono, to serve the national development that is pro poor, pro jobs, pro environment and pro growth.

 Indonesia now has changed its pathway to manage its forests in a sustainable way, by supporting economic growth while committed to 26% emissions reduction. Keeping the forest in not only the responsibility of the current government. It also needs worldwide assistance. Taking care of Indonesia’s forest is a support for humanity.

REDD+

Indonesia was significantly involved in laying the ground of REDD + at COP 13 in Bali, specifically the Bali Action Plan article 1 b iii. The process from Bali, to Copenhagen, Cancun and Doha is a preparation for a mechanism to be agreed by all concerned.

Indonesia possesses and implements various REDD + agenda in line with national development programs, ranging from reducing deforestation through the eradication of illegal logging and illegal logging trade, conducting mass tree planting (1 billion national trees planting movement), and improving regulation, technology, and capacity management of forests.

Indonesia is most advanced in implementing REDD+ mainly through various Demonstration Activities schemes or embedded in economic, environmental and social programs (pro-jobs, pro-poor, pro-growth and pro-environment). Based on Cancun Agreement, to implement REDD+, countries should be preparing establishment of national REDD+ strategy, national forest reference emission level and/or forest reference level, national forest monitoring system and safeguards. “We had been preparing those steps and are ready to implement REDD+ in Indonesia” say Yetti Rusli, Indonesia Ministry of Forestry.
In the immediate future, it is important for the country to have the capability of scaling up best practices through efficiency, effectiveness, coordination and transparency in implementing  REDD+
Indonesia aims at being one of the lead countries in performing scale up and speed up efforts in climate change mitigation and adaptation.

Forests matter for Indonesia. At the Doha Climate Change Conference, Indonesia is fighting for the best outcome of REDD+. “Indonesia sees REDD+ as a golden opportunity to combine forest conservation and economic welfare. To have the cake and eat it too, as REDD+ is an opportunity to add value to forest as it is, and not only as timber, soil or underground minerals” says Rachmat Witoelar,  Head of the Indonesian Delegation and Executive Chairman of the National Council on Climate Change.

 Indonesia approves the first REDD+ project

President Yudhoyono has been consistent with his commitments to protect the remaining forests in Indonesia. Last week the Ministry of Forestry granted an area of almost 80 thousand hectares, for Rimba Raya Biodiversity Reserve as a restoration model and a buffer zone for orang utan conservation, adjacent to Tanjung Puting National Park in Central Kalimantan. The project aims for community-based activities, biodiversity protection, reforestation, greenhouse aquaponics and eco-tourism.

“REDD + plays an important role in reducing emissions from the forestry sector, but the cost for REDD+ forests and community-based activities is high, so Indonesia urges developed countries to immediately realize the financing for REDD+” says Rachmat Witoelar.

 “I am proud that Central Kalimantan is able to deliver the world’s flagship REDD+ project. We look forward to working with the project developers in a cooperative “learning by doing” environment,” says Teras Narang, Governor of Central Kalimantan Province, Indonesia. Central Kalimantan is home to the orangutans, and the national REDD+ pilot province under REDD+ partnership with Norway.

As the Doha talks continue, Indonesia reminds the world that global solutions need action. Developed and developing countries can be part of the solutions by making and acting upon their commitments. Words without actions are meaningless.

Source :
http://www.setkab.go.id/international-6586-indonesias-15-years-contribution-to-reduce-emission-from-deforestation.html

Sekjen PBB puji hasil KTT Doha

PBB, New York (ANTARA News) - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon, Sabtu (8/12), menyambut baik hasil konferensi iklim PBB di Ibu Kota Qatar, Doha, dan menyerukan upaya lebih banyak internasional guna membatasi kenaikan temperatur global jadi dua derajat Celsius.

"Sekretaris jenderal percaya masih banyak lagi yang perlu dilakukan dan ia menyeru pemerintah, serta pengusaha, masyrakat dan warga sipil, agar mempercepat tindakan di lapangan sehingga kenaikan temperatur global dapat dibatasi jadi dua derajat Celsius," demikian pernyataan yang dikeluarkan juru bicara Ban.

Pembicaraan iklim PBB di Doha, Sabtu, mensahkan satu paket rancangan bagi masa kedua tak terlalu ambisius Protokol Kyoto dan komitmen lemah mengenai dana iklim setelah perundingan, Jumat malam, tentang perbedaan antara negara maju dan berkembangan.

Penutupan pertemuan dua-pekan itu di Ibu Kota Qatar, Doha, ditunda selama hampir sehari penuh, sementara para diplomat dari lebih 190 negara mendesak dicapainya kemajuan, sekecil apa pun itu.

Menurut Presiden Konferensi tersebut Abdullah bin Hamad al-Atiiyah, kesepakatan baru akan diterpakna dari 2013 sampai 2020.

Protokol Kyoto adalah satu-satunya rencana PBB yang mewajibkan negara maju untuk mengurangi buangan karbon. Masa komitmen pertamanya berakhir pada penghujung tahun ini.

Itu adalah langkah penting menuju kesepakatan baru global PBB yang akan disepakati pada 2015 dan mulai berlaku pada 2020.

Ban mengatakan di dalam satu pernyataan bahwa ia "akan meningkatkan keterlibatan pribadinya dalam upaya untuk meningkatkan ambisi, menambah dana iklim, dan melibatkan pemimpin dunia sebab kita sekarang bergerak menuju kesepakatan global pada 2015", demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Ahad.

Namun, tak ada sasaran lebih keras bagi pengurangan buangan gas oleh negara maju di Doha.

Uni Eropa berpegang pada sasarannya, pengurangan sebanyak 20 persen, dan menyampaikan kembali langkah lebih lanjut jadi 30 persen akan mengharuskan komitmen negara maju bagi pengurangan buangan yang sebanding.

Posisi tawarnya melemah sebab Uni Eropa telah dilaporkan memenuhi sasaran 20 persennya, delapan tahun sebelum waktunya, dan tak memiliki rencana untuk mengajukan pengurangan yang lebih ambisius.

Yang lebih mengecewakan, Amerika Serikat menyatakan negara adidaya tersebut hanya bisa mengurangi buangan gas rumah kacanya sebanyak 17 persen sampai 2020 dari tingkat 2005, yang berarti pengurangan tiga persen sampai empat persen di bawah tingkat 1990. Sementara itu Australia mengusulkan pengurangan buangan gas 0,5 persen dari 1990.

Pertemuan tersebut meminta negara maju mengajukan keterangan mereka paling lambat pada 2014 mengenai kemajuan mereka ke arah pencapaian pembatasan buangan yang terukur dan potensi bagi peningkatan ambisius.

Thursday, December 6, 2012

Konferensi Iklim Doha desak negara maju kurangi emisi


Doha (ANTARA News) - Konferensi tentang perubahan iklim PBB yang dibuka pada Senin (26/11) di Doha, Qatar, menyerukan tindakan dan komitmen lebih besar dari negara-negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang membuat Bumi bertambah panas.

Ketua Lembaga Transparansi dan Pemantauan Administrasi Qatar, Abdullah bin Hamad Al-Attiyah, yang memegang jabatan sebagai Presiden dalam konferensi tersebut mengatakan konferensi dua-pekan tersebuut merupakan kesempatan berharga bagi setiap peserta untuk mengajukan upaya menyelamatkan Bumi.

Sekretaris Pelaksana Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Christiana Figueres mengatakan dalam konferensi itu para perunding akan menyelesaikan pekerjaan yang digagas dalam Konferensi Para Pihak (COPs) sebelumnya, terutama langkah maju yang dicapai di Bali, Indonesia.

Menurut laporan Xinhua, dia mengatakan bahwa pertemuan di Doha akan merancang pengaturan terperinci tentang masa komitmen kedua Protokol Kyoto, kesepakatan yang secara hukum mengikat dan mengharuskan negara industri memangkas buangan karbon.

Selain masalah yang berkaitan dengan perpanjangan Protokol Kyoto, perencanaan pekerjaan berdasarkan Landasan Durban --mekanisme baru perundingan-- dan pemetaan langkah maju dalam pendanaan iklim jangka panjang juga menjadi prioritas pembahasan.

Figueres meminta semua peserta memberikan perhatian terhadap dukungan dana dan teknis yang sangat diperlukan negara berkembang guna mengantisipasi dampak pemanasan global.

Beberapa hari sebelum konferensi, Figueres mengatakan di Bonn, Jerman, tempat UNFCCC berpusat, bahwa konferensi Doha harus menyampaikan sasarannya guna mempercepat aksi global dalam mencapai emisi gas yang lebih rendah.

Saat konferensi, wakil delegasi China, Su Wei, menyatakan sikap negara-negara BASIC (Brazil, Afrika Selatan, India dan China) tentang tantangan perubahan iklim.

"Perubahan iklim adalah tantangan yang melemahkan kemampuan negara berkembang untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan," katanya.

"Masyarakat internasional perlu memperkuat rejim aturan iklim berbasis multilateral yang sudah ada dan melakukan tindakan konkret sesuai dengan prinsip-prinsip dan ketentuan Konvensi," tambah dia.

Dia juga menekankan pihak yang berkepentingan harus melindungi sistem iklim berdasarkan asas kesetaraan dan kesesuaian dengan prinsip umum namun dengan perbedaan tanggung jawab sesuai kemampuan masing-masing.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/345537/konferensi-iklim-doha-desak-negara-maju-kurangi-emisi

Wednesday, December 5, 2012

Ministry of Forestry Event at UNFCCC COP 18 : Indonesia's 15 Years Contribution to Combat Climate Change: Reducing Deforestation


Indonesia’s National Forest Monitoring System (INFMS) has been established and embedded within the Ministry of Forestry to provide information on the location and extent of the main forest and land use types, to estimate volume and growth by forest type, and to assess the state of the forests.

The monitoring system has four main components:

  1. forest resources (status) assessment
  2. forest resources (change) monitoring
  3. geographic information system and 
  4. users’ involvement. 


Wednesday, 5 December 2012 20.15 – 21.45 pm

Qatar National Convention Center (QNCC), Side Event Room 6

Moderator:
Yetti Rusli, 
Senior Adviser to Minister of Forestry on Environment and Climate

Presentation
Keynote Speech Rachmat Witoelar,
President's Special Envoy for Climate Change/Executive Chair of National Council on Climate Change

Movie: 'The Leaf Lies a Breath'

Indonesian's Programme for Reducing Emission

Agus Purnomo,
Special Staff to the President for Climate Change, the Head of National Council of Climate Change Secretariat

FAO: Forest Monitoring and REDD+
Sánz Sánchez, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO)

Indonesian's National Forest Monitoring System (NFMS)
Yuyu Rahayu, Director Forest Resources Inventory and Monitoring, MoFor

Sub national REDD+ MRV development and Provincial Action Plan for Reducing Emission
Laksmi Banowati, UNREDD Programme Indonesia Panel Discussion

Closing Remark
Ambassador of the Republic of Indonesia in Doha

http://nfms.dephut.go.id/

Sunday, December 2, 2012

COP 18/CMP 8 UNFCCC Doha, Qatar


COP 18/CMP 8 UNFCCC Doha, Qatar 26 November – 7 Desember 2012.
“Indonesia mengharapkan semua negara maju menandatangani Protokol Kyoto periode komitmen kedua”.

Kelanjutan periode komitmen Protokol Kyoto adalah salah satu agenda penting dalam konferensi tahunan perubahan iklim yang akan digelar di Doha, Qatar, pada tanggal 26 November – 7 Desember 2012.

Protokol Kyoto adalah kesepakatan global di bawah UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) yang mengatur upaya penurunan emisi oleh negara-negara yang dikategorikan sebagai negara industri maju dan yang telah menghasilkan emisi gas rumah kaca ke atmosfir, penyebab terjadinya perubahan iklim. Berakhirnya periode komitmen pertama pada akhir tahun ini diharapkan akan diikuti dengan kesepakatan mengenai periode komitmen kedua dimana negara maju akan menyatakan kesediaannya untuk menandatangani. Beberapa negara telah menyatakan tidak akan mengikatkan diri kepada periode komitmen kedua. Meskipun demikian, Indonesia berharap Protokol Kyoto tahap kedua ini akan segera efektif per 1 Januari 2013.

Agenda

Menurut Ketua Delegasi Republik Indonesia, Rachmat Witoelar, mengatakan bahwa agenda terkait kelanjutan Protokol Kyoto termasuk membahas lamanya periode komitmen kedua yang hingga kini belum dicapai kesepakatan. Sebagian negara menginginginkan hingga tahun 2020, mengingat rezim global baru yang akan mengatur upaya penanggulangan perubahan iklim direncanakan akan mulai efektif tahun 2020. Namun beberapa negara menginginkan periode komitmen yang lebih pendek agar penurunan emisi yang signifikan segera terjadi sehingga dampak negatif perubahan iklim dapat dihindari. “Indonesia mengharapkan negara maju menunjukkan kepemimpinannya dalam upaya penyelamatan bumi dari kerusakan akibat perubahan iklim yang kian meningkat. Meski negara berkembang, Indonesia telah mengambil inisiatif penting dalam upaya penurunan emisi dan adaptasi terhadap perubahan iklim”, kata Rachmat Witoelar yang juga Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim.

Selain agenda terkait Protokol Kyoto, COP18/CMP8 UNFCCC di Doha diharapkan akan menuntaskan pembahasan Bali Action Plan yang terdiri dari agenda peningkatan aksi penanggulangan perubahan iklim seperti mitigasi di negara maju dan berkembang, adaptasi di negara berkembang dan rentan, serta penyediaan pendanaan dan investasi, teknologi dan peningkatan kapasitas bagi negara berkembang. Agenda Bali Action Plan yang dihasilkan oleh COP 13 tahun 2007 di Indonesia tersebut selama ini dibahas dalam Ad-hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention (AWG-LCA) yang dimandatkan untuk berakhir di Doha.

Menurut Rachmat Witoelar, agenda penting lain yang akan mewarnai pertemuan di Doha adalah kelanjutan pembahasan mengenai rezim global baru yang ditargetkan menyelesaikan kesepakatan pada tahun 2015. Agenda tersebut merupakan hasil keputusan COP tahun lalu di Durban dan telah memulai kerjanya awal tahun ini. Pembahasan tersebut berlangsung dalam Ad-Hoc Working Group on Durban Platform for Enhanced Action (ADP).

Indonesia Anggota GCF

Salah satu isu terkait Bali Action Plan yang akan mengemuka di Doha adalah tuntutan akan realisasi komitmen negara maju untuk menyediakan pendanaan jangka panjang (long-term finance) sebesar US$100 milyar per tahun sampai tahun 2020 yang telah dideklarasikan di Kopenhagen pada akhir tahun 2009. Wadah untuk mengelola dana tersebut sudah dibentuk, yaitu Green Climate Fund (GCF), namun hingga kini belum ada pernyataan yang jelas dari negara maju mulai kapan dan melalui mekanisme apa mereka akan menyalurkan dana tersebut.

Sekretaris Kelompok Kerja Pendanaan DNPI, Suzanty Sitorus, mengatakan Indonesia berhasil menjadi anggota Board of the Green Climate Fund untuk masa kerja 3 tahun pertama. Wakil Indonesia di Board GCF adalah Prof.Dr. Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. Selain itu, Indonesia akan menjadi anggota Standing Committee on Finance mulai September 2013-2015. Indonesia juga memberikan kontribusi positif terhadap proses perundingan UNFCCC khususnya dalam isu pendanaan Indonesia melalui terpilihnya anggota delegasi Indonesia untuk memimpin berbagai sesi negosiasi pendanaan. Melalui peran aktif dalam proses UNFCCC tersebut dan juga keanggotaan dalam entitas-entitas pendanaan tersebut, Indonesia memperjuangkan agar pendanaan untuk upaya penanggulangan perubahan iklim di negara berkembang dapat dimobilisasi dari berbagai sumber secara efektif dalam jumlah yang memadai dan dapat diprediksi besaran alirannya.

Kegiatan pendukung

Dalam rangkaian acara COP 18/ CMP 8 Indonesia akan menyelenggarakan beberapa kegiatan yang memaparkan usaha dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, yaitu Indonesia Climate Change Day & Exhibition pada tanggal 1 & 2 Desember serta Side Event pada 5 Desember.

Indonesia Climate Change Day diawali pada 1 Desember 2012 dengan serangkaian seminar dan lokakarya di Hotel La Cigale yang akan mengetengahkan basis ilmiah perubahan iklim, kebijakan dan program, serta tantangan dan peluang bisnis dalam menanggulangi perubahan iklim khususnya di Indonesia melalui tema “The Business Response to the Challenges and Opportunities of Climate Change in Indonesia” Pada tanggal 1 dan 2 Desember 2012 di tempat yang sama akan diselenggarakan pameran yang diperkaya dengan penampilan produk hijau dan kuliner Indonesia guna memperkuat diplomasi budaya di lingkup internasional.

Side event pada 5 Desember 2012 mengambil tema "Indonesia's 15 Years Contribution to Combat Climate Change: Reducing Deforestation". Pada kesempatan ini pembicara dari FAO akan menyajikan status hutan di dunia sedangkan Kementerian Kehutanan akan memaparkan aktivitas REDD+ serta National Forest Monitoring System yang antara lain menunjukkan pengurangan nyata deforestasi di Indonesia.

Sumber :
http://dnpi.go.id/portal/id/berita/berita-terbaru/200-cop-18-cmp-8-unfccc-doha-qatar
Website Resmi COP18 :
http://www.cop18.qa/

Dr. Yetti Rusli, M.Sc : Indonesia Harus Bangga Punya REDD+


Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-17 untuk Perubahan Iklim atau COP 17 dilaksanakan di Durban, Afrika Selatan, dari tanggal 28 November hingga 9 Desember 2011. Satu tujuan utama Konferensi ini adalah menetapkan kesepakatan baru untuk menangani perubahan iklim global karena periode Protokol Kyoto—yang sebelumnya merupakan kesepakatan beberapa negara untuk menangani perubahan iklim—akan berakhir pada 2012. Banyak pihak menilai COP 17 sukses membuat sejumlah pencapaian. Namun, tak sedikit pula yang menilai pencapaian itu belum cukup untuk mengatasi pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim.

Untuk mengetahui gambaran umum pelaksanaan COP 17, terutama terkait sektor kehutanan yang menjadi perhatian utama Indonesia, berikut petikan wawancara dengan Dr. Yetti Rusli, Staf Ahli bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim sekaligus Ketua Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (RI).

Apa hasil yang dicapai COP 17 di Durban, Afrika Selatan? Apakah sukses atau masih jauh dari
harapan?

Indonesia sebenarnya sudah mengukir kesuksesan sejak COP 13 di Bali pada tahun 2007. Kesuksesan
itu diraih dengan diakuinya empat pilar pembangunan kehutanan untuk menanggulangi perubahan iklim, yaitu menurunkan laju emisi dari kerusakan hutan, upaya konservasi, upaya menambah penyerapan karbon di hutan, dan pengelolaan hutan lestari.

Sebelum Bali, hanya pilar kehutanan pertama yang diakui. Nah, di Bali tiga pilar terakhir diakui, dan Indonesia yang paling berperan dalam hal itu, dengan turunnya langsung Presiden ke Konferensi. Setelah itu, keempat pilar tersebut disebut sebagai REDD+ dan didokumentasikan di dalam Kesepakatan Kopenhagen (Copenhagen Accord, Denmark, COP 15, 2009). Jadi, REDD+ adalah empat pilar pembangunan kehutanan.

Dengan keberhasilan di Bali, Indonesia kini tinggal mengawal negosiasi-negosiasi agar terus mengalami kemajuan. Sementara itu, kesiapan di tingkat nasional juga terus berjalan agar sesuai dengan arah pembangunan.

Lalu bagaimana kemajuan REDD+ di Durban?

Di Durban, banyak dibicarakan sisi pendanaan untuk REDD+. Bagi saya, itu juga merupakan kemajuan di sektor kehutanan. Kalau untuk sektor lain mungkin masih pelan, apalagi negara negara maju masih berdebat untuk menentukan target pengurangan emisi mereka. Tapi kita harus memahami, sebab ekonomi dunia masih dalam posisi sulit. Dalam kondisi seperti itu, mereka tak bisa memaksakan diri untuk menurunkan emisi. Itu akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi.

Apa agenda Indonesia di Durban?

Di Durban, Kementerian Kehutanan RI masih terus mengawal berbagai negosiasi dan melihat banyak
kemajuan, misalnya dalam hal kerangka pengaman (safeguard) dan pendanaan. Akan tetapi, memang perkembangan masalah pendanaan masih dini. Sektor hutan adalah unggulan Indonesia.

Jadi Indonesia harus bangga punya REDD+. Bagi Indonesia, intinya hanya dua, menanam pohon sebanyakbanyaknya lalu memelihara hutan, kemudian mendatangkan investasi, dan menciptakan pasar untuk itu. Semua bisa melakukan itu, dari masyarakat hingga pengusaha. Yang penting nilai tambahnya dari kegiatan itu harus lebih tinggi.Kalau harga karbonnya lebih rendah daripada harga kayu, ya mending nggak usah dagang karbon. Tapi kalau (harga karbon--red) lebih tinggi, pengusaha kayu pun akan tertarik berbisnis karbon.

Apa yang membuat COP 17 berbeda dengan COP lain?

Bagi delegasi RI, yang berbeda kali ini adalah adanya acara tambahan (side event) dan Pavilion Indonesia. Di kedua forum itu Indonesia bisa menampilkan hal-hal yang sudah dilakukan oleh bangsa ini, pemerintah, masyarakat, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan pengusaha, terkait penurunan emisi gas rumah kaca.

Presentasi-presentasi itu tak hanya menyajikan pengalaman di lapangan, tapi juga data yang ditunjang oleh riset dan analisis akademik, termasuk yang dilaksanakan oleh masyarakat (community), sehingga menjadi bukti bahwa Indonesia memang mampu. Hal itu tentunya menarik bagi banyakpihak yang mengikuti presentasi presentasi tersebut. Bagi kehutanan Indonesia, Pavilion dan side event menjadi wadah pembuktian bahwa REDD+ di Indonesia betul-betul berada pada baris terdepan di dunia.

Sumber : Newsletter COP17 Durban 2011

Saturday, December 1, 2012

Masyarakat adat bisa kelola hutan


Jakarta (ANTARA News) - Deputi II Urusan Advokasi, Hukum, dan Politik Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Mina Susena Setra, menegaskan, masyarakat adat melalui kearifan lokalnya bisa mengelola sendiri hutannya.

"Contohnya pengelolaan hutan oleh masyarakat adat di Rumah Panjang Sungai Utik, Kalimantan Barat. Di sana, semua komunitas mempunyai pengelolaan sendiri seperti mana wilayah untuk peladangan, berburu hingga hutan keramat," ujar Mina.

Mina jadi pembicara dalam diskusi "Melampaui Karbon: REDD+ Menuju Pembangunan yang Berkelanjutan dan Berkeadilan Sosial" di Jakarta, Selasa.

Dengan demikian, Mina meyakini tidak perlu mengambil tata cara pengelolaan hutan dari luar negeri, karena masyarakat adat mempunyai tata cara pengelolaan hutan sendiri.

"Apa yang dilakukan masyarakat adat sangat penting untuk Indonesia."

Dia mengatakan, ke depannya pengelolaan hutan melalui masyarakat adat perlu mendapat tempat. Masyarakat adat perlu juga menunjukkan jati dirinya.

Direktur Jaringan Untuk Hutan (JAUH), Silverius Oscar Unggul, mengakui pengelolaan hutan di Tanah Air dilakukan dengan tidak lestari.

Pengelolaan hutan --dengan melibatkan masyarakat-- dapat dilakukan secara besar-besaran seperti yang dilakukan perusahaan kayu di Swedia, Sodra.

"Swedia yang hanya mempunyai luas hutan satu persen saja, bisa memproduksi 10 persen dari industri kayu dunia karena pengelolaan hutan rakyatnya yang sangat baik," ujar Silverius.

Silverius mengatakan ke depannya, perlu mencari kolaborasi yang baik dalam pengelolaan hutan.

General Manager PT Kemakmuran berkah Timber, Sukadi, mengatakan perusahaannya sudah melakukan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/345565/masyarakat-adat-bisa-kelola-hutan

Thursday, November 29, 2012

Green Economy Bisa Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja

pengangguran bisa diatasi dengan green economy
Investasi green economy adalah aktifitas perusahaan yang bisa mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Indonesia bisa menciptakan jutaan lapangan pekerjaan melalui investasi green economy.

Dalam laporan Green and Decent Job yang dirilis International Trade Union Confederation (ITUC), Indonesia menempati urutan ketiga negara paling potensial menciptakan lapangan kerja di bidang green economy, setelah Amerika Serikat (AS) dan Brazil.

Laporan yang menyoroti potensi lapangan kerja di 12 negara tersebut menyebutkan, jika Indonesia melakukan investasi 2 persen dari pendapatan negara untuk green economy, maka dalam lima tahun ke depan, Indonesia bisa menciptakan 4,4-6,3 juta lapangan kerja baru.

"Dua persen dari pendapatan negara itu tidak harus dikeluarkan dari pemerintah, bisa dari swasta. Pemerintah bisa memfasilitasi regulasi dan insentif pajak," ujar Sekretaris Jenderal ITUC, Sharan Burrow, di Jakarta, hari ini.

Menurut dia, investasi yang masuk kategori green economy adalah aktifitas perusahaan yang bisa mengurangi dampak kerusakan lingkungan seperti pembuatan solar panel, turbin tenaga angin, konstruksi retrofitting, atau transportasi massal yang mengurangi polusi.

"Dari sektor transportasi Jakarta misalnya, kami perkirakan untuk tiap US$1 juta yang dihabiskan bisa tercipta 656 pekerjaan," ujar Sharan.

Secara global, jika setiap negara menginvestasikan 2 persen dari pendapatannya setiap tahun, maka selama lima tahun berturut-turut diperkirakan tercipta 48 juta lapangan pekerjaan baru.

"Ini akan menjawab dua kebutuhan sekaligus, yaitu kebutuhan akan pekerjaan dan kebutuhan untuk melestarikan lingkungan," ujar Sharan.

Anggota komisi IX DPR, Rieke Diah Pitaloka, mengatakan, perlu dilihat apakah investasi green economy menguntungkan kaum buruh.

"Daerah-daerah kantong TKI itu rata-rata luar biasa subur dan punya banyak sumber daya alam, tetapi penduduknya miskin karena keuntungan bukan untuk mereka," katanya.

Sumber :
http://www.beritasatu.com/ekonomi/47439-green-economy-bisa-ciptakan-jutaan-lapangan-kerja.html

Sunday, November 25, 2012

Indonesia-Korsel kembangkan "Sister Park"

Jakarta (ANTARA News | 24/11/12) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan bersama dengan Korea National Park siap mengembangkan "Sister Park" sebagai upaya kerja sama pengelolaan Taman Nasional di kedua negara.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan, Darori Wonodipuro di Jakarta, Jumat, mengatakan, dalam menerapkan sistem pengelolaan Taman Nasional tersebut akan lebih melibatkan dan menguntungkan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut Dirjen PHKA bersama pimpinan Korea National Park Service Chung Kwang Soo melakukan penandatanganan kerja sama pengelolaan taman nasional di kedua negara tersebut.

"Melalui kerja sama ini diharapkan akan memberikan percepatan bagi peningkatan kapasitas pengelolaan Taman Nasional di kedua negara," kata Darori.

Di antara peningkatan yang diharapkan dari kerja sama ini adalah berkembangnya teknis pengelolaan Taman Nasional, wisata alam, restorasi habitat dan pemulihan spesies yang terancam punah, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, saling kunjung dan magang bagi staf di lapangan.

Lokasi tahap awal yang telah disepakati yaitu di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Indonesia) dan Taman Nasional Jirisan (Korea Selatan) yang memiliki kemiripan ekologi dan ekosistem pegunungan.

Untuk selanjutnya akan ditambahkan lokasi lain yang memiliki kemiripan ekosistem perairan, dengan pilihan antara lain Taman Nasional Takabonerate, Taman Nasional Bunaken, Taman Nasional Karimun Jawa, Taman Nasional Kepulauan Seribu atau Taman Nasional Ujung Kulon di Indonesia yang akan dipasangkan dengan Taman Nasional Dodonghaesang (Korea).

"Kerja sama ini akan berlaku selama tiga tahun, dan dapat di perpanjang atau di replikasi ke tempat lain berdasarkan evaluasi bersama," kata Darori.

Pada kesempatan itu dia juga mengatakan kerja sama ini bersamaan dengan persiapan perubahan Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Ia berharap perubahan Undang-Undang ini dapat mengurangi porsi pendekatan keamanan dan pembatasan pada pengelolaan hutan yang saat ini terjadi, menjadi pendekatan yang saling menguntungkan, baik bagi pengusaha maupun masyarakat.

"Pengalaman yang sedang kita lakukan, dengan adanya penjarahan, pengrusakan Taman Nasional dengan cara mengusir, itu belum bisa menyelesaikan. Tapi justru malah tambah," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu ada sistem yang baru, yang tidak melanggar undang-undang.

Dengan keterbatasan Undang-Undang 41, tambahnya, pemanfaatan hutan hanya boleh di hutan lindung dan hutan produksi, tapi hutan konservasi tertutup.

Oleh karena itu, menurut dia, dalam rangka review Undang-Undang 5 tahun 1990, perlu adanya informasi, cara-cara, sehingga tidak mengulang kembali hal-hal yang menutup untuk perkembangan ekonomi, ekologi dan sosial di Indonesia.
(S025/Z002)

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/345069/indonesia-korsel-kembangkan-sister-park

Wednesday, November 21, 2012

Hutan primer Indonesia tinggal 64 juta Hektare

Jakarta (21/11/2012 ~ ANTARA News) - "Hutan di Indonesia yang tersisa dalam kondisi bagus (primer) terhitung ada 64 juta hektar sedangkan yang masih dalam keadaan kritis sebanyak 90 juta hektar," kata Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan.

"Tidak boleh lagi ditebang dan dijaga kelestarian lahan tersebut," kata Hasan, usai penanaman pohon di kawasan DAS Ciliwung, Gunung Tikukur, Bogor, Rabu. Kerusakan hutan atau alih fungsi hutan sudah menunjukkan dampak destruktifnya, banjir di mana-mana namun kering kerontang pada musim kemarau.

Menurut dia semua pihak harus ikut melestarikan hutan, serta ikut berpartisipasi dalam program menanam pohon yang digalakkan pemerintah.

"Perlu dukungan semua pihak, termasuk swasta, BUMN, LSM, dan peran serta masyarakat dalam program penghijauan ini," kata dia. Jika hanya pemerintah menanam ,butuh waktu lebih dari seratus tahun. Tapi, jika semua pihak terlibat, maka hanya perlu 25 tahun Indonesia bisa kembali hijau.

Dalam beberapa tahun terakhir telah melaksanakan program penanaman pohon yang setiap tahunnya bertambah dalam hal kuantitas. Pada 2008 sebanyak 100 juta pohon, 2009 sekitar 200 juta, 2010 1,3 milyar pohon, 2011 sebanyak 1,5 milyar pohon, sedangkan sampai hari ini sebanyak 700 juta pohon dan diharapkan sampai Januari nanti lebih dari 1 milyar pohon.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Operasi Brigade Lintas Udara 17 Kostrad, Mayor Infantri Agus Harimurti Yudhoyono, mengatakan, penanaman pohon harus menjadi kepedulian publik untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup Indonesia.

"Jika tiap individu masyarakat tidak memiliki hasrat memelihara hutan kita, maka kepedulian publik sangat penting. Jangan mudah merusak lingkungan. Think big do small do that," kata dia, memakai bahasa Inggris untuk sesuatu yang sebetulnya ada dalam bahasa Indonesia.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/344649/hutan-primer-indonesia-tinggal-64-juta-hektare

Tuesday, November 13, 2012

A green economy: Is it possible?

Next year is Rio+20. In 1992, leaders of the world gathered in Rio de Janeiro, Brazil, to agree on a different way to develop, and signed the Earth Charter, as well as other international environmental agreements including the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

The so-called World Conference on Environment and Development was followed by the World Summit on Sustainable Development in 2002 in Johannesburg, South Africa, to further the convergence of environment and development.

Next year, the 20th anniversary will bring us back to Rio de Janeiro. The theme will be ?green economy?.

Indonesia has seen some interesting dynamics in green economics in the past couple of years. At the G20 meeting in Pittsburgh, President Susilo Bambang Yudhoyono announced a commitment to reduce Indonesia?s greenhouse gas emissions to 26 percent below its business-as-usual trajectory, and 41 percent if financial involvement from foreign countries was made available, by 2020.

The target is known as the ?7/26? target: An emissions reduction of 26 percent below business-as-usual, while maintaining economic growth at 7 percent per year. These figures, in addition to targeting to reduce poverty levels to below 11 percent, reducing unemployment to below 14 percent, make up Indonesia?s ?pro-growth, pro-poor, pro-job and pro-green? development targets. The ?7/26? target is basically a green economy commitment.

Rhetoric aside, implementation will be challenging. Questions remain as to whether a green economy is possible. Can Indonesia reduce its greenhouse gas emissions while continuing to grow?

Integrating economic development and environmental protection is a classic challenge. But more recently, it has been shown that economic development not only affects but is also affected by the quality of the ecosystem. A green economy therefore offers the following methods: first, accounting for the costs associated with pollution and environmental degradation in black sectors. The traditional way of accounting economic growth omits environmental costs, although someone, somewhere, must pay them. Only by taking these costs into account can we understand the real growth of the economy.

Second, accounting for the benefits associated with protecting the environment and ecosystem services. As with costs, environmental benefits have also not been properly accounted for in traditional models used to project economic growth. At present, when duly unitized, ecosystem services can be monetized and thus provide real economic and financial benefits.

Third, shifting sources of growth from ?black? to ?green? sectors. Green growth does not aim to reduce growth. It aims to change the way growth is created and to shift sectors that are the sources of growth. By shifting the sources of growth from ?black? (polluting) to the green (clean) sectors, pollution is minimized while ecosystem services are maximized.

Back to the ?7/26? target. According to the most recent National Action Plan for the Reduction of Emissions of Greenhouse Gases, Indonesia needs to cut 767 million tons of carbon-equivalent greenhouse gases unilaterally. Forestry and peat contributes the largest amount. About 672 million tons or 88 percent of the reduction is expected to come from the forestry and peat sectors. Taking a look at the development of the forestry sector may provide some insights on how a green economy can be applied in Indonesia.

Debatably, forestry contributes to the Indonesian economy significantly and has been a significant contributor to economic growth.

In the mid-1990s, the forestry sector contributed slightly less than 4 percent of Indonesia?s gross domestic product, which in 1995 and 1996 was Rp 454 and Rp 532 trillion (about US$50 and $60 billion, subsequently). In 1995, of the 19 percent GDP growth (20 percent when oil is excluded), forestry contributed about 7 percent (about one-third of the total growth), according to the Indonesian Statistical Yearbook.

But degradation of forests is costly. The forest fires in the late 1990s cost the economy between $5 and $7 billion. Indonesia Corruption Watch estimates that Indonesia suffers losses of around Rp 14 trillion every year due to deforestation. Deforestation between 2005 and 2009 totaled 5.4 millon hectares, valued at about Rp 71.28 trillion. Illegal logging alone may cost Indonesia somewhere between $5 and $15 billion a year.

Avoiding deforestation comes at a cost, but presents a lot more benefits. Avoiding deforestation starts out at $1,800 and can go up to $2,240 per hectare by 2050. But preventing carbon emissions through the Reduction of Emissions from Deforestation and Degradation of Forests (REDD+) scheme has a significant value. Halving emissions from deforestation would cut about 1 billion tons of carbon-equivalent greenhouse gas emissions. With a $5 per ton shadow price for carbon, this means an additional income of $5 billion per year from stopping deforestation.

Some say that this might not be enough to compensate any lost income that would have been gained from exploiting forests. But carbon is not the only ecosystem service forests provide. Forests also serve as water catchment and purification areas, hubs of biodiversity, nutrients, recreation areas and others. Added together, they serve as quite a competitive economic argument against destructive and exploitative practices.

A recent study by the University of Padjadjaran in Bandung for the Environment Ministry found some very interesting results in regards to a green economy. The study ran a scenario that includes improvements in energy efficiency by 25 percent, reducing coal-based fuel use by 50 percent, reducing the rate of deforestation by 10 percent, and implementing shadow carbon tax of $50 per ton.

The result is that Indonesia would cut emissions of carbon dioxide by 177 million tons, increase its GDP by 2.7 percent (Rp 133 trillion) per year, create 3 million new jobs and reduce the number of poor people by more than 4 million per year.

If this model was put into practice, the President can be assured that his ?7/26? target will be met. A green economy is not only possible, it is the only possibility.

Source :
http://www.uncsd2012.org/index.php?page=view&nr=443&type=230&menu=39

Monday, November 12, 2012

70 persen hutan konservasi di Bengkulu rusak

Bengkulu (ANTARA News | 12/11/2012) - Kawasan hutan konservasi di Provinsi Bengkulu yang luasnya sekitar 45.000 hektare hingga saat ini 70 persen sudah rusak akibat perambahan.

Kerusakan kawasan hutan konservasi itu disaksikan Plt Gubernur Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah lewat udara, kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Anggoro Dwi Sujiarto, Senin.

"Kami bersama Plt Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah dan instansi terkait melihat kerusakan kawasan hutan itu lewat udara selama dua jam penerbangan, Minggu (11/11)," katanya.

Selama ini berdasarkan laporan di lapangan kerusakan hutan itu berkisar 40-60 persen, namun setelah dilihat lebih tinggi yaitu sekitar 70 persen.

Ia menjelaskan, kawasan hutan konservasi yang ditinjau itu ada sembilan titik dan tujuh kawasan antara lain utan buru Bukit Kabu, Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, hutan konservasi di Lebong, hutan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat dan TWA Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Dari jumlah itu rusak paling tinggi terjadi di kawasan hutan buru Bukir Kabu di Kabupaten Seluma dari luas 9.036 ha rusak 75 persen antara lain oleh perambah.

Selain itu hutan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba di kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang dari 13.000 ha sudah rusak 45-60 persen.

Kawasan hutan paling rusak terjadi di wilayah Kabupaten Kepahiang yaitu dijadikan perambah menjadi kebun kopi dan sayuran karena ketinggiannya di atas 1.200 meter dari permukaan laut.

Demikian juga TWA pantai panjang selain di gusur untuk jalan wisata, juga dijadikan kawasan perumahan dan lapangan golf, ujarnya.

Plt Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah mengatakan untuk menekan kerusakan kawasan hutan di Bengkulu termasuk hutan konservasi antara lain memantapkan rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW).

Para bupati diimbau untuk memprdakan RTRW secara baku, sehingga jelas batas kawasan hutan lindung dan hutan masyarakat.

Selain itu para perambah diimbau untuk meninggalkan lokasi sebelum tim terpadu turun ke lapangan karena bila tim sudah turun, maka akan dilakukan proses hukum, katanya.
(ANTARA)

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/343039/70-persen-hutan-konservasi-di-bengkulu-rusak

Masyarakat Baduy Konsisten Lestarikan Hutan

Lebak (ANTARA News  | 11/11/2012) - Masyarakat komunitas Suku Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten sangat konsisten menjaga pelestarian hutan dan lahan, kata Ketua Wadah Musyawarah Masyarakat Baduy (Wammby) Kasmin Saelani di Rangkasbitung, Minggu.

Ia mengatakan hingga saat ini masyarakat Baduy menjaga pelestarian lingkungan untuk keseimbangan ekosistem alam juga kelangsungan hidup manusia.

Hutan yang rusak akan menimbulkan banjir, longsor dan kekeringan. Karena itu, kata dia, pihaknya terus menjaga kawasan hutan Baduy agar tidak terjadi kerusakan dengan melarang penebangan pohon.

Saat ini kawasan hutan hak ulayat Baduy seluas 5.101,85 hektare sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 32 Tahun 2001 hingga kini terjaga dengan baik.

"Masyarakat Baduy tidak boleh melakukan penebangan pohon maupun perusakan hutan sebab kalau hutan itu rusak tentu akan menimbulkan malapetaka bagi manusia dan ekosistem lainnya," kata Kasmin.

Menurut dia, masyarakat Baduy yang tinggal di kawasan Gunung Kendeng berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, merupakan sebagai hulu air wilayah Provinsi Banten.

Kawasan wilayah hulu Baduy memiliki beberapa daerah aliran sungai (DAS), di antaranya Ciujung, Cisimeut, Ciberang, dan Cimadur.

"Kami sangat komitmen menjaga pelestarian hutan dan lahan untuk mengantisipasi bencana alam," ujarnya.

Ia menyebutkan masyarakat Baduy sejak nenek moyang hingga sekarang tetap menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai pilar kehidupan.

Bahkan, kawasan Baduy hingga kini tidak memiliki jalan aspal.

"Kami melarang warga luar memasuki hutan hak ulayat Baduy dengan membawa angkutan, seperti motor, mobil, dan truk sebab kendaraan bisa merusak hutan kawasan Baduy," katanya.

Kasmin mengatakan kepedulian warga Baduy terhadap pelestarian lingkungan sangat besar, selain menjaga hutan-hutan lindung juga melakukan penanaman berbagai jenis pohon.

Selain itu, lanjut dia, warga Baduy tidak boleh melakukan penebangan dan harus seizin lembaga adat.

"Kami sangat cinta hutan, maka menjaga dan melestarikan agar hutan tidak rusak," ujar Kasmin yang juga keturunan Baduy dan kini anggota DPRD Provinsi Banten.

Kepala Desa Kanekes yang juga tokoh adat Baduy Daenah mengatakan bahwa pihaknya tetap sangat konsisten menjaga gunung-gunung dan hutan yang ada di Provinsi Banten agar tetap terpelihara kelestarianya.

Pelestarian hutan dan gunung, kata dia, untuk menghindari dari segala bencana alam seperti banjir, longsor, dan pemanasan global.

"Kami terus mengawasi hutan dan lahan agar tidak terjadi penebangan liar yang dilakukan masyarakat luar kawasan Baduy," katanya.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/342936/masyarakat-baduy-konsisten-lestarikan-hutan

Friday, October 26, 2012

Menhut Ajak KNPI Kerja Sama Lestarikan Hutan

Menhut ~ Zulkifli Hasan
Lombok Barat, NTB (23/10 ~ ANTARA News) - Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan mengajak Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) bekerja sama melestarikan hutan yang terus mengalami kerusakan akibat perambahan liar.

"Mari kita berhenti bertengkar. Saya mengajak KNPI berdemo, tapi demo menanam pohon," katanya pada acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KNPI, di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Selasa.

Pada kesempatan itu Menhut juga menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Taufan E. N Rotorasiko mengenai upaya pelestarian kawasan hutan.

Menurut Zulkifli, KNPI bisa berperan banyak dalam mendukung upaya program pelestarian dan pemanfaatan kawasan hutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Salah satu program Kementerian Kehutanan adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm). Kementerian Kehutanan sudah mencanangkan HKm seluas 600 ribu hektare (ha) pada 2010 dan seluas 700 ribu ha pada 2011.

Pengelolaan HKm tersebut diberikan kepada masyarakat yang tinggal di pinggir kawasan hutan dengan syarat tidak boleh melakukan penebangan kayu, namun hanya mengambil manfaat berupa hasil hutan non kayu.

"KNPI bisa mengambil peran dalam program itu agar jangan sampai lahan yang sudah dicanangkan itu salah sasaran," ujarnya.

Program Kemhut yang juga bisa didukung oleh KNPI, kata dia, adalah program Kebun Bibit Rakyat (KBR).

Program KBR merupakan salah satu program prioritas Kemhut yang telah dilaksanakan sejak 2010, guna menyiapkan bibit berkualitas dalam jumlah yang cukup mendukung program penanaman di areal lahan sasaran rehabilitasi hutan dan lahan di seluruh Indonesia.

Selai itu, kata Zulkifli, pihaknya juga menyediakan dana bagi masyarakat yang memiliki lahan untuk ditanami pepohonan. Masyarakat bisa memperoleh dana pinjaman senilai Rp20 juta untuk satu hektare lahan yang akan ditanami.

Dana tersebut dikembalikan setelah sembilan tahun masa peminjaman dengan bunga sekitar lima hingga enam persen.

"Mudah-mudahan KNPI bisa bekerja sama menjalanan program penghijauan dan tidak lagi ramai berkegiatan di hotel-hotel, tapi turun ke desa-desa untuk mendukung program penghijauan bersama dengan pemerintah," ujarnya.
(KR-WLD/M025)

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/340132/menhut-ajak-knpi-kerja-sama-lestarikan-hutan

Monday, October 15, 2012

Indonesia berpotensi besar untuk pembangunan rendah emisi karbon


Jakarta (15/10 ~ ANTARA News) - Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar mengatakan Indoesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung pembangunan rendah emisi karbon.

Contoh konkrit dari potensi itu adalah dengan mengganti penggunaan sumber tenaga fosil ke non-fosil. 

"(Sumber daya) bukan minyak bumi yang paling besar adalah geothermal," katanya saat peluncuran Indonesia Climate Change Day.



Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi energi alternatif berupa tenaga air angin, biomasa, dan tenaga surya. 

Selain penggunaan energi alternatif, cara yang paling cepat untuk mendukung pembangunan rendah emisi karbon adalah dengan melakukan penghematan energi misalnya mematikan lampu di siang hari.

Menurutnya, energi panas bumi yang digunakan di Indonesia baru sekitar empat hingga enam persen. 

"Kita punya 100, tapi yang kita pakai cuma empat sampai enam. Padahal kita negara kedua yang punya potensi panas bumi tinggi," tegasnya.

Hal itu disebabkan biaya yang tidak murah untuk mulai menggunakan energi panas bumi.

"Dan itu mesti masuk ke hutan-hutan lindung. Jadi, urusannya panjang," jelasnya.

Sumber : http://goo.gl/TIlCo

Friday, October 12, 2012

Dr. Yetti Rusli : Pentingnya Pemahaman Green Development di PT


“Green Campus” adalah merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan kampus,  dalam implementasi pembangunan nasional sektor kehutanan terutama dalam melestarikan sumber daya hutan dan seluruh kekayaraan keanekaragaman hayati. Flora, fauna dan lingkungan yang dimiliki oleh sumber daya hutan Indonesia. Dunia kampus adalah dunia pendidikan dan pembelajaran untuk menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang handal, professional dan tangguh. Oleh karenanya untuk dunia kampus,  konsep green economy seyognyalah diperkenalkan dan disepahamkan sebagai konsep green development yang menekankan pada keseimbangan pertumbuhan pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan melalui pengembangan kurikulum perguruan tinggi.

Kampus harus mampu menjadi lading pengembangan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan produktifitas sumber daya alam dan sumber daya buatan; pengembangan potensi sosial masyarakat; pengembangan pengelolaan sumber daya alam yang efisien dan berkelanjutan Kampus harus mampu menjadi mitra pemerintah dari yang tertinggi sampai ketingkat desa dalam memberikan pengembangan advis pengembangan kebijakan public, reformasi birokrasi dan peningkatan profesionalisme birokrat Kampus juga harus mampu menjadi mitra masyarakat dalam meningkatkan motivasi, inovasi dan kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam pembangunan.

Demikian point penting paparan orasi ilmiah dengan tema “Green Campus, Pentingnya Pemahaman Green Development di Lingkungan Intsitusi Perguruan Tinggi” yang disampaikan DR, Ir. Yetti Rusli, MSc  mewakili menteri kehutanan RI, Zulkifli Hasan, SE MM dalam acara wisuda USNI ke XVI bertempat di Manggala wanabakti Jl Gatot Subroto Senayan Jakarta Pusat kamis 11/10.

Untuk lulusan wisudawan terbaik Yayasan Abdi karya memberikan seperangkat Ipad sebagai bentuk apresiasi dan komitment YADIKA  dalam partisipasi  kontribusi positif dibidang pembangunan pendidikan. Selamat menjadi Sarjana USNI kepada seluruh Wisudawan/I. Humas

Sumber : disini

Thursday, October 11, 2012

Indonesia-Jerman sepakati peningkatan kerja sama kehutanan


London (ANTARA News) - Indonesia dan Jerman sepakat untuk melakukan penguatan kerja sama dalam rangka mengisi kemitraan komprehensif Indonesia-Jerman di bidang kehutanan sebagai tindak lanjut kunjungan Kanselir Merkel ke Indonesia Juli lalu.

Hal itu terungkap dari kunjungan Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan ke Jerman selama dua hari dalam rangka peningkatan kerjasama kehutanan Indonesia-Jerman yang telah berlangsung selama 45 tahun, demikian Counsellor Pensosbud KBRI Berlin, Ayodhia Kalake kepada ANTARA London, Rabu.

Dalam kunjungan kerja ke Jerman Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan menjadi pembicara utama dalam roundtable discussion dengan pemangku kepentingan di Jerman yang diadakan KBRI Berlin di Bonn dihadiri sekitar 50 peserta dari kalangan pemerintah Jerman, peneliti, LSM, akademisi, media, kalangan bisnis, dan mahasiswa Indonesia di Jerman.

Dialog dibuka secara resmi Dubes RI Berlin, Dr. Eddy Pratomo yang berlangsung secara interaktif dalam mengupas berbagai isu kehutanan terkini di Indonesia seperti masalah moratorium izin konversi hutan alam dan lahan gambut, Demonstration Activity REDD+, konflik lahan, penyelesaian tata ruang.

Dalam dialog juga dibahas masalah System Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan negosiasi dengan Uni Eropa terkait Voluntary Parnertship Agreement (VPA) dan EU Trade Regulation 2013, pemberantasan illegal logging, program penanaman 1 milyar pohon, dan tata kelola kehutanan.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Zulkifli Hasan melakukan pembicaraan bilateral dengan Wakil Menteri Pertanian, Pangan dan Perlindungan Konsumen Republik Federal Jerman, Peter Bleser.

Dalam pertemuan itu disepakati kedua negara akan melakukan penguatan kerjasama dalam rangka mengisi kemitraan komprehensif Indonesia-Jerman di bidang kehutanan sebagai tindak lanjut kunjungan Kanselir Merkel ke Indonesia Juli lalu, melalui Forest and Climate Change Programme (FORCLIME) yang telah berjalan, termasuk implementasi REDD Plus.

Selain pengembangan energi terbarukan seperti energi biomass dari hutan tanaman (wood pellet) terkait program penghentian energi nuklir di Jerman pada 2022 dimana Indonesia memiliki peluang pasar di Jerman.

Capaian penting lainnya dari kunjungan Menteri Zulkifli Hasan ke Jerman adalah penyerahan penghargaan dari Kementerian Lingkungan dan Energi Negara Bagian Hessen kepada Menteri Kehutanan RI atas kerjasama kehutanan yang telah terjalin selama lebih dari 45 tahun antara Indonesia dan Jerman.

Penghargaan diberikan Wakil Menteri Lingkungan dan Energi Negara Bagian Hessen, Wein Meister kepada Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan, disaksikan Dubes Dr. Eddy Pratomo, dan Sekjen Kementerian Kehutanan RI, Hadi Daryanto dan Dirjen Kehutanan Kementerian Lingkungan dan Energi, Carsten Wilke, di Wiesbaden .

Menteri Zulkifli Hasan melakukan kunjungan lapangan ke KPH Chaussehaus Wiesbaden seluas 13.000 ha, melihat pengelolaan hutan produksi lebih dari 200 tahun termasuk untuk rekreasi, perlindungan hutan dan produksi kayu. (ZG)

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/337825/indonesia-jerman-sepakati-peningkatan-kerja-sama-kehutanan

Monday, October 1, 2012

Moratorium Hutan Inisiatif Indonesia


Jakarta (ANTARA News 1/10) - Staf Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim Agus Purnomo menegaskan bahwa penandatanganan Inpres No 10/2011 mengenai penundaan izin tebang hutan sementara selama dua tahun untuk kawasan hutan primer dan gambut merupakan inisiatif pemerintah Indonesia sendiri dan bukan paksaan dari pihak lain.

"Moratorium ini murni inisiatif Indonesia tanpa paksaan dari negara lain atau iming-iming uang," ujar dia saat pemaparan buku 'Menjaga Hutan Kita: Pro-Kontra Moratorium Hutan dan Gambut', di Jakarta, Senin.



Inpres tersebut, menurutnya, merupakan langkah awal kebijakan pemerintah untuk mengelola hutan lebih baik dan efektif.

"Pemerintah Indonesia melakukan komitmen untuk memoratorium lahan gambut jauh sebelum melakukan kerjasama REDD+ di Oslo, Norwegia," katanya.

Selama ini, ujar dia, Indonesia ikut berpartisipasi dalam penurunan karbon dan gas emisi rumah kaca di persepsikan karena iming-iming pendanaan sebanyak 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp9 triliun ataupun proyek besar antar negara.

"Padahal tidak ada proyek besar sama sekali, uang itu akan ada jika pengurangan emisi terjadi," ujar dia.

Fasilitas pembayaranpun, kata dia, harus di verifikasi dan diukur oleh pihak ketiga. "Jika memang ada perubahan rencana kerja dan terbukti bisa menurunkan emisi gas rumah kaca maka negara yang bersangkutan memang berhak mendapatkan pembayaran," ujar dia.

Norwegia berperan sebagai negara yang bisa membayarkan uang tersebut karena tidak bisa berkontribusi menurunkan emisi melalui hutannya.

Sementara sejumlah negara menolak membuat komitmen serupa, contohnya China yang tidak mau menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) selama negara maju tidak berkontribusi menurunkan emisi dalam jumlah yang lebih besar.

"Sedangkan Amerika tidak mau melakukan komitmen baik penurunan gas rumah kaca maupun menyumbangkan uang kepada negara yang bersedia melakukannya. Ini suatu hal yang tidak bisa dipaksakan," ujar dia.

Seperti diketahui, Indonesia berkomitmen untuk bisa menurunkan emisi gas rumah kaca dan karbon sebanyak 26 persen pada 2020 mendatang dengan menandatangani moratorium lahan gambut dan primer dengan kompensasi dana sebesar 1 miliar dolar AS.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/336254/moratorium-hutan-inisiatif-indonesia

Tuesday, September 25, 2012

Documents - 2008

2008 - REDD ITTO : Tropical Forests and Climate Change
http://www.mediafire.com/download/gc1c53409469njl/redd+itto+tropical+forests+and+climate+change.pdf

2008 - Statistik Kehutanan Indonesia Th.2007
http://www.mediafire.com/?ylgbx5tds8pqql8

2008 - Kondisi Hutan Produksi Saat Ini (Lokakarya Penerapan Multisistem Silvikultur)
http://www.mediafire.com/?j3bofndidahac98

2008 - Indonesia and Japan reach agreement (new remote sensing)
http://www.mediafire.com/view/?2bjfbc8jg57f7h1

2008 - Climate Change and Forest
http://www.mediafire.com/?rbsxbmcarn5ece3

Sunday, September 23, 2012

25 Hektar Hutan di NTT Ludes Terbakar

Dugaan menguat, hutan Bangga Rangga itu dibakar perambah.

VIVAnews (23/9) - Hutan lindung Bangga Rangga di Manggara Timur Nusa Tengara Timur mengalami kebakaran hebat. Diduga kebakaran itu dilakukan secara disengaja. Ini keempat kalinya kebakaran terjadi. Akibatnya, 25 hektar areal hutan ludes terbakar.

"Pelaku pembakaran hutan diduga kuat dilakukan mereka yang selama ini mengincar kawasan ini untuk dijadikan peladangan liar. Mereka berasal dari sejumlah desa yang bermukim di sekitar Bangga Rangga," kata Kepala Badan Konservasi dan Sumberdaya Alam Wilayah Ruteng, Ora Yahanes, Minggu petang 23 September 2012.



Dugaan menguat, hutan Bangga Rangga yang terkenal rimba itu sedang "dikeroyok" para perambah dari berbagai Desa di Kecamatan Poco Ranaka. Selain rusak karena dibakar, hutan ini gundul akibat penebangan liar untuk dijadikan lahan perkebunan.

Dari 32.246 hektar hutan, sebanyak 3.500 hektar sudah dijadikan perkebunan liar. Jika ditambah dengan lokasi yang terbakar, maka luas areal yang rusak mencapai 3.525 hektar.

Meski sering melakukan Patroli hutan, petugas sulit mengidentifikasi para perambah. "Yang kami temukan hanya balok dan papan hasil penebangan liar. Pondok mereka kami bongkar dan tanaman perambah warga dicabut. Namun pemiliknya lolos," kata Ora.

Dalam waktu dekat akan dilakukan operasi besar-besaran di kawasan Hutan Lindung Bangga Rangga.

Kepala Desa di lokasi terdekat daerah Wejang Mali, Paulus Jemui, ini merupakan kebakaran yang keempat di bulan September ini. Yang terparah terjadi pada Sabtu kemarin,lokasi kebakaran sangat dekat dengan jalan raya.

"Kebakaran yang terjadi pada kilometer 26 kemarin adalah yang terbesar, kebakaran dari pagi hingga petang, sepanjang pinggir jalan raya," jelas Paulus.

Sumber :
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/353669-25-hektar-hutan-di-ntt-ludes-terbakar

Friday, September 14, 2012

Proyek REDD+ Merang hasilkan teknik pendugaan cadangan karbon lahan gambut

Pengukuran karbon menghasilkan data karbon
pada biomassa pohon. Foto oleh James Maiden/CIFOR

Bogor (14 September 2012) Kerjasama pemerintah Indonesia dan Jerman dalam Proyek Percontohan REDD Merang (MRPP) di Sumatera Selatan, menghasilkan kontribusi penting berupa panduan “Teknik Pendugaan Cadangan Karbon Lahan Gambut”.

Publikasi ini diterbitkan gratis untuk umum dalam bentuk cetak.  Perangkat lunak juga akan disediakan setelah penghitungan karbon hutan guna meningkatkan akurasi data selesai dimodifikasi. Termasuk integrasi format data Inventarisasi Menyeluruh Berkala (IHMB) dan NFI.

“Kami buat dengan sistim terbuka (open source), saling terkoneksi dengan sesama pengguna panduan ini,” kata Solichin Manuri, penulis dan peneliti utama yang sekarang bekerja pada GIZ-FORCLIME. Praktisi kehutanan, termasuk komunitas hutan yang tertarik akan proyek REDD+ juga dapat belajar sendiri menghitung potensi karbon wilayah mereka, tambahnya.

Diharapkan perangkat lunak tersebut dapat memfasilitasi Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) untuk mengolah dan menganalis data-data hasil inventarisasi yang telah maupun yang akan dilakukan.

Selain itu, metode ini juga bersifat tumbuh kembang. Artinya pihak – pihak yang terlibat dalam proyek REDD+ diharapkan aktif memasukkan informasi sebanyak-banyaknya dengan memakai perangkat ini.

“Jadi makin banyak data masuk dan tersambung satu sama lain, makin kaya data yang bisa dibagikan dan digunakan bersama-sama,” kata Chandra Agung Septiadi, rekan peneliti Solichin.

Dalam publikasi ini, Agus Dwi Saputra rekan peneliti yang lain mengatakan, mereka juga membuat prosedur serta metode pengukuran cadangan inventarisasi karbon hutan. Termasuk  pengembangan persamaan alometrik biomassa pohon dan perhitungan dugaan cadangan karbon hutan.

Penyempurnaan Data

Menurut Solichin, publikasi ini menampilkan metode pengukuran karbon yang lebih  detil dibandingkan dengan publikasi di tahun 2009 berjudul Panduan Inventarisasi Karbon Hutan Rawa Gambut. Di publikasi terbaru ini dilengkapi dengan penjelasan teknik tentang akurasi penghitungan karbon, pengembangan persamaan alometrik hingga penghitungan total cadangan karbon di tingkat proyek.

“Tidak hanya terfokus pada teknik inventarisasi hutan, pembuatan sampling desain plot dan pengukuran parameter plot,“ katanya dan menerangkan koreksi data terbaru menyangkut 
penambahan luas lahan pengukuran sampai di wilayah pemanfaatan hutan oleh pemegang ijin usaha di Areal Kerja Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu. “Supaya pengusaha kayu tertarik terlibat dalam upaya pengurangan emisi di areal produksi mereka,” ujarnya lagi.

Teknik Penelitian

Menurut Chandra, pengukuran karbon hutan mirip inventarisasi hutan. “Bedanya, pengukuran karbon lebih terperinci untuk menghasilkan data karbon pada biomasa pohon,“ katanya dan menerangkan penghitungan karbon dilakukan detil mulai dari kayu, pohon mati, serasah, tumbuhan di atas dan bawah pohon dan kandungan tanahnya.

Penelitian ini dilakukan dengan cara menguji coba teknik melalui survei kedalaman gambut dan survei potensi karbon. “Kami menggunakan pendekatan Tier 3, yaitu pengukuran langsung di lokasi proyek.”

Tier adalah tingkat kerincian faktor emisi perubahan cadangan karbon. Tier 1 mengacu data global rujukan Panel Internasional Perubahan Iklim (IPCC) tidak memerlukan pengukuran di lapangan, dan Tier 2 menggunakan data-data yang diperoleh dari penelitian di tingkat nasional. “Kami ingin hasil data referensi level emisi (REL) yang lebih akurat dan kredibel,” tambah Chandra.

Penentuan REL adalah langkah pertama utama+, kata Louis Verchot, peneliti perubahan iklim dari CIFOR. “Selain berfungsi mengukur efektifitas pelaksanaan proyek REDD+, REL juga menghitung berapa besar uang yang harus dibayarkan dari kegiatan pengurangan emisi,” kata Louis.

Di dalam mekanisme insentif REDD+ pembayaran ditentukan beberapa hal. Seperti penilaian berdasarkan kinerja (pay based on performance), pemakaian standar perhitungan karbon yang absah, termasuk menentukan tingkat referensi emisi (REL).

Diadopsi menjadi salah satu contoh

Metodologi hasil Solichin dkk juga berhasil diadopsi menjadi salah satu model pengukuran dan pendugaan cadangan karbon hutan gambut oleh Kementerian Kehutanan. Keterangan ini berikan oleh Rolf Krezdorn, Direktur Program MRPP.

Ia menerangkan, metode penelitian yang dipakai Solichin dkk bersesuaian dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), terutama mengenai pengukuran karbon dan pengembangan alometrik.

Data IHMB dan national forest inventory (inventarisasi kehutanan nasional) milik Kemenhut tersebut, kami manfaatkan untuk peningkatan jumlah plot yang berkontribusi dengan tingkat akurasi pengukuran, penjelasan dari Agus. “Jadi tidak melenceng dan berada pada jalur yang sama dengan Kemenhut,” katanya lagi.

Lokasi uji coba dilakukan di areal seluas 24 ribu hektar di kawasan hutan Merang, salah satu kawasan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Sumatera Selatan. Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin memberikan ijin daerah ini dijadikan proyek percontohan berdasarkan kesepakatan teknis antara Kementerian Kehutanan dan Lembaga Kerjasama Internasional Jerman (GIZ) MRPP, 26 Juli 2010 lalu.

MRPP yang berakhir Desember 2011 lalu, adalah salah satu dari 44 program demonstration  activity atau proyek percontohan REDD+. Kerjasama bilateral dengan Jerman dalam MRPP ini terutama berkaitan dengan pengkajian metodologi dan teknologi dalam penerapan mekanisme REDD+.  (BK/CIFOR)*

Ditulis oleh: Budhy Kristanty 

Sumber : 
http://www.redd-indonesia.org

Wednesday, September 12, 2012

Menhut : Hutan bagus Indonesia tinggal 60 juta hektare

Foto udara lokasi penebangan di kawasan hutan Kalimantan Timur, Senin (16/7). Hasil riset Heart of Borneo (HoB) menyebutkan hutan alam seluas kurang lebih 22 juta hektar di wilayah Kalimantan dan sekitarnya terancam oleh alih fungsi ke pertambangan dan perkebunan sawit. 


Tuban, Jawa Timur (ANTARA News) - Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan mengatakan bahwa hutan bagus di Indonesia sampai saat ini hanya tinggal 60 juta hektare.

"Sampai sekarang tinggal 60 juta hektare hutan bagus di seluruh daratan di Tanah Air," ujarnya kepada wartawan usai melakukan penanaman pohon di lahan tambang milik Semen Gresik di Tuban, Rabu.

Sedangkan hutan yang mengalami masa kritis sampai saat ini luasnya sekitar 90 juta hektare yang termasuk area milik rakyat.

Kendati demikian, Zulkifli Hasan mengaku hutan di Indonesia sudah melampaui masa kritis dibandingkan sebelumnya.

Pihaknya mengimbau kepada semua masyarakat untuk tidak menebang pohon sembarangan dan melindungi hutan bagus di Indonesia.

"Kami sangat butuh peran serta petani dan masyarakat dalam melindungi hutan. Jika menemukan ada pembalakan atau penebangan liar, segera ditindaklanjuti," kata menteri yang juga politisi asal Partai Amanat Nasional tersebut.

Sebagai langkah menciptakan kembali hutan bagus, pihaknya tidak akan berhenti menyosialisasikan dan meminta masyarakat melaksanakan program pemerintah dalam hal penghijauan atau reboisasi.

Bahkan Zulkifli yakin jika mulai saat ini semua bekerja sama dan bahu-membahu melakukan penanaman pohon maka tidak lebih dari 30 tahun lagi hutan di Indonesia kembali hijau.

Sementara itu, Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL) Indonesia Teguh Ardi Srianto mengaku prihatin dengan jumlah hutan bagus di Indonesia saat ini.

Menurut dia, penebangan pohon secara liar sebagai bagian dari penjualan kayu ilegal sangat mempengaruhi berkurangnya hutan di Indonesia.

"Selain penjualan kayu ilegal, pengalihfungsian hutan untuk kawasan tanaman produksi dan pemukiman juga berpengaruh. Sehingga itulah yang menyebabkan kritisnya hutan kita," papar Teguh.
(*)

AntaraNews : 12 September 2012 
Link : http://www.antaranews.com/berita/332562/hutan-bagus-indonesia-tinggal-60-juta-hektare

Friday, September 7, 2012

“GREEN PRODUCT” KEHUTANAN VERSUS ISSUE LINGKUNGAN

Issue lingkungan pemanasan global akibat emisi CO2 penggunaan energi fosil yang terus meningkat di negara-negara maju telah menjadi keprihatinan dunia. Namun belakangan isue pemanasan global ini bergeser dan mencuat menjadi isue deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang yang dituding sebagai penyumbang terbesar emisi CO2.

Wednesday, August 22, 2012

Pengelolaan Hutan dan Aliran Air di Indonesia


Dampak pembangunan terhadap kesehatan dan kehidupan

Sumber daya hutan dan daerah aliran sungai Indonesia tidak memberi kontribusi yang seharusnya terhadap pengurangan kemiskinan, pembangunan ekonomi dan sosial serta kesinambungan lingkungan. Malahan, area hutan terancam degradasi, fragmentasi dan kehancuran. Seperempat "kawasan hutan negara" kekurangan tutupan pohon. Dalam tahun-tahun terakhir, Indonesia kehilangan area hutan sampai 2 juta hektar per tahun, sebagian besar karena penebangan liar dan konversi tahan yang didorong kapasitas pemrosesan berlebihd an kurangnya pengelolaan dan penegakan hukum yang efektif. Hilangnya hutan merusak kehidupan pedesaan, layanan ekosistem dan kemampuan Indonesia untuk mencapai sasaran pengentasan kemiskinan. Tata kelola hutam yang buruk merusak iklim investasi, potensi ekonomi pedesaan serta daya saing dan reputasi Indonesia. Tindak pidana di hutan memperburuk masalah anggaran dan perimbangan keuangan, serta mengalihkan pendapatan masyarakat yang dapat digunakan untuk pengentasan kemiskinan dan tujuan pembangunan. Bersamaan dengan bergeraknya Indonesia dari transisi menuju stabilisasi dan pertumbuhan, ada peluang besar untuk membantu pemerintah menemukan cara baru dalam mengelola kawasan hutan melalui kemitraan dengan masyarakat lokal, memberi kontribusi terhadap demokrasi, keadilan, kesetaraan, investasi sektor pedesaan, pekerjaan dan pertumbuhan.

Akar permasalahan

Perundangan di Indonesia menetapkan tujuan jelas untuk sektor kehutanan: output ekonomi, distribusi manfaat yang adil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, perlindungan daerah aliran sungai dan konservasi. Tujuan-tujuan konsisten dengan kebijakan Bank Dunia mengenai pengelolaan hutan, yang dibangun di atas tiga tujuan yang saling berhubungan: menguatkan potensi hutan untuk mengentaskan kemiskinan, mengintegrasikan hutan dalam pembangunan ekonomi berkesinambungan, dan melindungi nilai hutan global. Namun, Indonesia belum berhasil mencapai tujuan-tujuan ini, terutama dalam area kesinambungan dan kesetaraan. Tujuan Bank Dunia adalah membantu Pemerintah Indonesia dalam mencapai tujuan dan komitmen pengelolaan hutan serta mempromosikan dialog kebijakan yang lebih luas di antara pemangku kepentingan sektor hutan.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:
 Download Laporan: Strategic Options for Forest Assistance in Indonesia  (6mb)


Strategi pemerintah
Sektor kehutanan Indonesia telah lama mengalami krisis, namun banyak pengamat dan analis yakin bahwa dukungan berkelanjutan dari donor terhadap kehutanan penting dan kemungkinan keberhasilan saat ini lebih tinggi dibandingkan di masa lalu. Hal ini karena demokratisasi dan desentralisasi pemerintah menciptakan tekanan politik yang positif. Presiden terpilih Indonesia memiliki komitmen terhadap tata pemerintahan yang baik dan pemberantasan korupsi. Perilaku dan peran pemerintah, perusahaan-perusahaan besar dan masyarakat sipil mulai berubah. Pengambilan keputusan pusat lebih konsultatif dan transparan. Pemerintah daerah menjadi lebih tanggap dan bertanggung jawab. Masyarakat sipil dan dunia usaha membangun kembali hubungan yang lebih konstruktif. Dalam Departemen Kehutanan, proses evolusi dan reformasi bertahap menghasilkan peluang baru keterlibatan yang berarti.


Bantuan Bank Dunia dan donor utama lain
Di sektor kehutanan, strategi bantuan Bank Dunia dalam tiga tahun terakhir mengarah pada peningkatan pengelolaan dan tata pemerintahan untuk mendukung pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan, konservasi, pembangunan dan dialog kehutanan yang berkesinambungan. Bank Dunia dapat membantu Indonesia dalam dua cara utama: pertama, mendukung peningkatan kebijakan dan praktik manajemen untuk membantu Indonesia mencapai tujuan dan komitmennya sendiri; dan kedua, mempromosikan dialog yang lebih luas di antara para pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa tujuan pengelolaan hutan jelas, realistis dan diterima secara luas.


Kesenjangan strategis dalam strategi pemerintah dan tanggapan donor
Walaupun kerangka kerja hukum Indonesia termasuk wajar, kebijakan dan praktik pengelolaannya sering tidak konsisten dengan kerangka kerja tersebut. Pengelolaan yang baik harus dibangun di atas lembaga yang bertanggung jawab, negara hukum dan kebijakan yang sehat. Langkah-langkah menuju pengelolaan hutan yang lebih terstruktur akan membantu menciptakan prediktabilitas, transparansi dan pertanggungjawaban yang diperlukan untuk peningkatan tata pemerintahan. Ada peluang untuk berfokus pada peningkatan reformasi yang telah ada, dukungan terhadap pemenang, penyediaan dukungan analitis untuk pendekatan baru, dan klarifikasi kebijakan dan lingkungan perundangan.

Reformasi diperlukan untuk:
membuat informasi tersedia secara transparan; mendukung prakarsa Pemerintah mengenai penebangan liar dan restrukturisasi industri; melindungi area konservasi yang ada; mengklarifikasi peran, tanggung jawab dan insentif di bawah desentralisasi; serta mendukung dialog dan kemitraan. Pada saat yang sama, ada kebutuhan untuk mengenali pendekatan di masa lalu yang tidak efektif dan cara-cara baru melakukan bisnis yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat keterlibatan dan keefektifan yang baru.


Source : http://go.worldbank.org/P90YIHG1V0

Tuesday, August 21, 2012

Arctic sea ice likely to hit record low next week

Faster Arctic Ocean melting is
just one of global warming's positive feedback loops

(Reuters | 20/8) - Sea ice in the Arctic Ocean is likely to shrink to a record small size sometime next week, and then keep on melting, a scientist at the U.S. National Snow and Ice Data Center said on Monday.

"A new daily record ... would be likely by the end of August," said Ted Scambos, lead scientist at the data center, which monitors ice in the Arctic and elsewhere. "Chances are it will cross the previous record while we're still in sea ice retreat."

The amount of sea ice in the Arctic is important because this region is a potent global weather-maker, sometimes characterized as the world's air conditioner. This year, the loss of sea ice in the Arctic has suggested a possible opening of the Northwest Passage north of Canada and Alaska and the Northern Sea Route by Europe and Siberia.

As parts of the Arctic melted, 2012 also set records for heat and drought in much of the Northern Hemisphere temperate zone, especially the continental United States.

This summer could see the ice retreat to less than 1.5 million square miles (4 million square km), an unprecedented low, Scambos said.

The previous record was set in 2007, when Arctic ice cover shrank to 1.66 million square miles (4.28 million square km), 23 percent below the earlier record set in 2005 and 39 percent below the long-term average from 1979 to 2000.

However, 2007 was a jaw-dropping "perfect storm" of conditions that primed the area for thawing sea ice: warmer and sunnier than usual, with extremely warm ocean water and winds all working together to melt the Arctic.

Last year, Arctic sea ice extended over the second-smallest area on record, but that was considered to be closer to a "new normal" rather than the extreme conditions of 2007, NSIDC said then.

This year is similar to 2011, Scambos said by telephone from Colorado. The melt season started between 10 days to two weeks earlier than usual in some critical areas including northern Europe and Siberia.

SIGNS OF CLIMATE CHANGE

If the sea ice record is broken this month, that would be unusually early in the season; last year's low point came on September 9, 2011.

Typically, the melting of Arctic sea ice slows down in August as the Northern Hemisphere moves toward fall, but this year, it has speeded up, Scambos said. "I doubt there's been another year that had as rapid an early August retreat," he said.

Overall, the decline of Arctic sea ice has happened faster than projected by the United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change five years ago, according to NSIDC data ( here  ).

To Scambos, these are clear signs of climate change spurred by human activities, notably the emission of heat-trapping greenhouse gases including carbon dioxide.

"Everything about this points in the same direction: we've made the Earth warmer," he said.

This summer has also seen unusual melting of the ice sheet covering Greenland, with NASA images showing that for a few days in July, 97 percent of the northern island's surface was thawing. The same month also saw an iceberg twice the size of Manhattan break free from Greenland's Petermann Glacier.

The change is apparent from an NSIDC graphic showing current Arctic ice cover compared with the 1979-2000 average, Scambos said. The graphic is online at nsidc.org/arcticseaicenews/  .

"What you're seeing is more open ocean than you're seeing ice," he said. "It just simply doesn't look like what a polar scientist expects the arctic to look like. It's wide open and the (ice) cap is very small. It's a visceral thing. You look at it and that just doesn't look like the Arctic Ocean any more."

(Editing by Doina Chiacu)

(This story corrects the name of the agency to U.S. National Snow and Ice Data Center, instead of U.S. National Climate Data Center, in the first paragraph)

Source : http://goo.gl/pVjeB